Create your own at MyNiceProfile.com

Rabu, 28 November 2012

cerpen ku

dia oh teman ku
Aku mempunyai seorang teman di kelasku yang baru. Pertama-tama dia yang mulai mendekatiku. Aku sangat senang mempunyai seorang teman baru. Dia sangat pintar. Selain itu, dia juga lucu dan enak diajak bicara. Sejak saat itu dia selalu ber sama-sama denganku ke mana saja, bagaikan sampul lengket dengan prangko.
Hari demi hari kujalani kehidupanku di kelas dengan sangat bahagia bersama temanku itu. Tetapi hari berganti hari, penderitaanku yang me nyakitkan hati akan di mulai.

Setelah lama bersama dengan dia, aku menyadari nya kalau dia ter golong anak yang egois. Dia telah berubah. Dia benar-benar berubah. Dulu dia baik, tetapi sekarang dia mulai terlihat sifat buruknya. Memang kuakui kalau dia lebih pintar daripada aku dan aku bukan tandingannya dalam belajar.

Suatu ketika, guruku sedang menerang kan pelajaran. Temanku itu tidak mengerti pelajaran yang diikutinya dan aku pun tidak memahaminya. Dia bertanya padaku dan aku menjawab tidak tahu jawabannya karena memang aku tidak tahu. Akan tetapi, betapa terkejutnya diriku karena begitu aku menjawab tidak tahu, kata-kata pedas mulai menyakiti diriku ini. Aku dicaci maki. Aku sudah tidak tahan akan sikapnya.

Ia selalu mengatakan kalau aku ini tidak bisa apa-apa. Dengan keberanian ku, aku berbicara jujur dan terbuka dengan dia. Aku juga bilang kalau aku tidak suka dengan kata-katanya yang menyakitkan dan sifatnya itu. Aku katakan kalau dia tidak berubah, dia tidak akan mempunyai banyak teman. Namun, dia malah marah dan meng ejek aku dan temanku yang lain.

Besoknya, dia tidak masuk sekolah. Betapa berbahagianya aku ini karena dia tidak masuk sekolah. Hari demi hari telah terlewati, tidak terasa sudah tiga minggu dia tidak masuk ke sekolah. Aku mulai khawatir juga. Walau pun aku sedang marah padanya, tetapi aku juga perlu mendoakan nya agar dia tidak tertimpa apa-apa.

Besoknya, aku mendengar kabar kalau dia sudah pindah sekolah. Aku pun terkejut. Ketika pulang sekolah, aku menerima surat dan satu paket bingkisan. Ternyata peng irimnya adalah temanku itu. Kemudian, aku membaca surat nya. Isi suratnya, dia minta maaf atas per lakuan nya itu. Aku bersyukur kepada Tuhan karena dia telah berubah dari perbuatannya itu. Aku pun me maafkan meskipun sampai saat ini aku belum bertemu dia lagi. Aku berharap suatu hari nanti kita akan menjalin persahabatan lagi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar